26 Mei 2015
Eco Driving 5 Trik Menekan Konsumsi BBM Mobil
Jakarta - Berkendara dengan konsumsi bahan bakar yang
lebih irit menjadi idaman para pengguna kendaraan bermotor. Selain lebih
hemat biaya, cara berkendara yang kerap disebut eco driving pun lebih ramah lingkungan.
Instruktur mengemudi profesional yang telah tersertifikasi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Nugroho Respati berbagi tips agar kendaraan lebih hemat bahan bakar.
Mulai dari persiapan keluar dari rumah hingga sampai tempat tujuan memiliki cara yang perlu diperhatikan untuk menekan konsumsi BBM.
1. Memanaskan Mobil Jangan Terlalu Lama
Menghemat bahan bakar diawali dari kebiasaan orang memanaskan mobil. Untuk mobil yang sudah berteknologi injeksi, disarankan untuk memanaskan mobil tidak terlalu lama.
Pria yang akrab disapa Yoyok itu menyarankan, cukup satu menit memanaskan mesin mobil injeksi sudah bisa jalan.
"Kita tidak perlu lama-lama memanaskan. Satu menit sudah bisa jalan di mobil-mobil injeksi sekarang. Kalau sekarang kan sudah canggih, jadi intinya jangan lama-lama," kata pria yang akrab dipanggil Yoyok.
2. Akselerasi
Yoyok menyarankan, untuk melakukan akselerasi tekan pedal gas secara halus. Jika tetap ingin menempuh kecepatan tinggi, pastikan posisi percepatan berada di tingkat yang tinggi.
"Penambahan pedal gas lakukan dengan halus. Kalau ingin cepat, giginya yang diubah cepat. Kalau di gigi tertinggi dengan RPM rendah kecepatan bisa dipacu lebih tinggi," kata Yoyok.
Instruktur mengemudi profesional yang telah tersertifikasi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Nugroho Respati berbagi tips agar kendaraan lebih hemat bahan bakar.
Mulai dari persiapan keluar dari rumah hingga sampai tempat tujuan memiliki cara yang perlu diperhatikan untuk menekan konsumsi BBM.
1. Memanaskan Mobil Jangan Terlalu Lama
Menghemat bahan bakar diawali dari kebiasaan orang memanaskan mobil. Untuk mobil yang sudah berteknologi injeksi, disarankan untuk memanaskan mobil tidak terlalu lama.
Pria yang akrab disapa Yoyok itu menyarankan, cukup satu menit memanaskan mesin mobil injeksi sudah bisa jalan.
"Kita tidak perlu lama-lama memanaskan. Satu menit sudah bisa jalan di mobil-mobil injeksi sekarang. Kalau sekarang kan sudah canggih, jadi intinya jangan lama-lama," kata pria yang akrab dipanggil Yoyok.
2. Akselerasi
Yoyok menyarankan, untuk melakukan akselerasi tekan pedal gas secara halus. Jika tetap ingin menempuh kecepatan tinggi, pastikan posisi percepatan berada di tingkat yang tinggi.
"Penambahan pedal gas lakukan dengan halus. Kalau ingin cepat, giginya yang diubah cepat. Kalau di gigi tertinggi dengan RPM rendah kecepatan bisa dipacu lebih tinggi," kata Yoyok.
3. Pergantian Posisi Percepatan
Berkendara secara eco driving, pergantian posisi percepatan disarankan pada RPM rendah.
Untuk mesin diesel dengan torsi yang lebih tinggi, pada RPM 1.000-2.000 percepatan bisa langsung ditingkatkan. Sementara mesin bensin RPM di kisaran 2.000-3.000 sudah bisa ganti gigi.
"Jadi sesegara mungkin ganti gigi saat RPM rendah," ujarnya.
Berkendara secara eco driving, pergantian posisi percepatan disarankan pada RPM rendah.
Untuk mesin diesel dengan torsi yang lebih tinggi, pada RPM 1.000-2.000 percepatan bisa langsung ditingkatkan. Sementara mesin bensin RPM di kisaran 2.000-3.000 sudah bisa ganti gigi.
"Jadi sesegara mungkin ganti gigi saat RPM rendah," ujarnya.
4. Jaga Kecepatan dan Jarak Aman
Hal yang juga mempengaruhi efisiensi bahan bakar adalah cara pengereman. Mengurangi kecepatan dengan cara mengerem secara tiba-tiba akan membuat mesin lebih banyak meminum bahan bakar.
Yoyok pun menyarankan agar melakukan pengereman yang halus. Untuk itu, jaga pandangan jauh ke depan agar tidak melakukan rem mendadak.
"Pengereman lakukan dengan lembut, jadi kalau cara mengemudi kita dengan memandang jauh ke depan kita bisa lebih hati-hati," tuturnya.
Selain itu, Yoyok menyarankan untuk menjaga kecepatan. Kecepatan yang ditempuh diharapkan tidak terlalu tinggi. Jadi, teknik menjaga kecepatan adalah dengan mengikuti alur kondisi lalu lintas.
"Kalau lancar kita bisa ikuti," katanya.
Menentukan jarak aman juga menjadi faktor. Dalam teori keselamatan berkendara, jarak aman ditentukan sekitar 3 detik.
"Karena saat mata melihat dan memerintahkan otak itu perlu waktu. Contoh kecepatan 100 km/jam dalam satu detik itu mobil pindah 27,7 meter," kata Yoyok.
Jika jarak aman itu tidak diperhatikan dan tiba-tiba di depan ada objek yang menghalang, mobil pastinya akan mengerem mendadak dan meminum banyak bahan bakar.
Hal yang juga mempengaruhi efisiensi bahan bakar adalah cara pengereman. Mengurangi kecepatan dengan cara mengerem secara tiba-tiba akan membuat mesin lebih banyak meminum bahan bakar.
Yoyok pun menyarankan agar melakukan pengereman yang halus. Untuk itu, jaga pandangan jauh ke depan agar tidak melakukan rem mendadak.
"Pengereman lakukan dengan lembut, jadi kalau cara mengemudi kita dengan memandang jauh ke depan kita bisa lebih hati-hati," tuturnya.
Selain itu, Yoyok menyarankan untuk menjaga kecepatan. Kecepatan yang ditempuh diharapkan tidak terlalu tinggi. Jadi, teknik menjaga kecepatan adalah dengan mengikuti alur kondisi lalu lintas.
"Kalau lancar kita bisa ikuti," katanya.
Menentukan jarak aman juga menjadi faktor. Dalam teori keselamatan berkendara, jarak aman ditentukan sekitar 3 detik.
"Karena saat mata melihat dan memerintahkan otak itu perlu waktu. Contoh kecepatan 100 km/jam dalam satu detik itu mobil pindah 27,7 meter," kata Yoyok.
Jika jarak aman itu tidak diperhatikan dan tiba-tiba di depan ada objek yang menghalang, mobil pastinya akan mengerem mendadak dan meminum banyak bahan bakar.
5. Manfaatkan Momentum Tikungan, Tanjakan dan Turunan
Memanfaatkan medan jalan juga bisa dilakukan untuk menghemat bahan bakar. Ketika menghadapi sebuah tikungan, lakukan trik dengan hanya melepas gas.
Sebab, kata Yoyok, ketika melepas gas sebuah pasti masih memiliki daya yang tersisa untuk mendorong mobil. Jika ingin menambah kecepatan, lakukan setelah badan mobil sudah benar-benar melewati tikungan itu.
"Manfaatkan momentum tikungan. Sebelum tikungan lakukan perlambatan, masuk gunakan momentum. Kalau mau tambah akselerasi ketika sudah masuk," ujarnya.
Di medan tanjakan, penurunan percepatan harus dilakukan pada saat yang tepat. Lakukan ancang-ancang yang tepat.
Sementara di turunan, jangan terlalu banyak memakai rem. Disarankan agar melakukan pengurangan kecepatan dengan teknik engine brake.
"Tanjakan ancang-ancang jangan terlambat pindah gigi. Kalau turunan jangan banyak pakai rem tapi dengan engine brake," kata Yoyok.
Memanfaatkan medan jalan juga bisa dilakukan untuk menghemat bahan bakar. Ketika menghadapi sebuah tikungan, lakukan trik dengan hanya melepas gas.
Sebab, kata Yoyok, ketika melepas gas sebuah pasti masih memiliki daya yang tersisa untuk mendorong mobil. Jika ingin menambah kecepatan, lakukan setelah badan mobil sudah benar-benar melewati tikungan itu.
"Manfaatkan momentum tikungan. Sebelum tikungan lakukan perlambatan, masuk gunakan momentum. Kalau mau tambah akselerasi ketika sudah masuk," ujarnya.
Di medan tanjakan, penurunan percepatan harus dilakukan pada saat yang tepat. Lakukan ancang-ancang yang tepat.
Sementara di turunan, jangan terlalu banyak memakai rem. Disarankan agar melakukan pengurangan kecepatan dengan teknik engine brake.
"Tanjakan ancang-ancang jangan terlambat pindah gigi. Kalau turunan jangan banyak pakai rem tapi dengan engine brake," kata Yoyok.
Mitsubishi Hibur pemilik Delica
Mitsubishi
Delica pada acara “Family Fun Time bersama Delica” yang diikuti 150
keluarga di Mall Of Indonesia (MoI) Kelapa Gading, Jakarta Utara.
"Tujuan utama dari acara ini adalah untuk membuktikan Mitsubishi peduli keluarga Indonesia, terutama yang berlokasi di kota-kota besar karena kesibukan masing-masing dan jarang berkumpul bersama keluarga," kata Intan Vidiasari Kepala Departemen Hubungan Masyarakat Krama Yudha Tiga Berlian Motors di Kelapa Gading, Sabtu.
Intan menjelaskan acara ini juga bertujuan untuk lebih mengenalkan merek Mitsubishi Delica kepada keluarga Indonesia sebagai solusi kebutuhan mobil yang nyaman, tangguh, dan dapat diandalkan di berbagai medan.
Sebagai acara untuk keluarga, KTB menyajikan lomba mewarnai dan lomba hias kue untuk anak. Sementara untuk keluarga digelar kontes foto bersama mobil Mitsubishi Delica.
"Acara ini sangat menghibur ya, anaknya bisa lomba gambar sementara bapak sama ibunya bisa melihat-lihat mobil Delica," kata Nurrohim yang mangukuti acara ini bersama anaknya.
Dalam acara ini, KTB juga membagi tips cara liburan menyenangkan dengan mengendarai Mistubishi Delica karena kendaraan bertransmisi CVT 6 Speed ini memiliki kabin luas serta "High Ground Clearance dan Departure Angle" yang menambah rasa nyaman ketika melintasi medan perbukitan.
Delica Raih 9,5 persen pasar high MPV
Mitsubishi
Delica pada acara “Family Fun Time bersama Delica” yang diikuti 150
keluarga di Mall Of Indonesia (MoI) Kelapa Gading, Jakarta Utara.
(Alviansyah Pasaribu)
"Kehadiran Mitsubishi Delica sejak tahun 2014 ternyata cukup digemari oleh masyarakat Indonesia. Sejak diluncurkan Agustus 2014 lalu hingga bulan April 2015 penjualan Mitsubishi Delica telah mencapai di atas 270 unit dengan pangsa pasar sekitar 9,5 persen di kelas High MPV," kata Intan Vidiasari Kepala Departemen Hubungan Masyarakat Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) di Kelapa Gading, Sabtu.
Sedangkan pada kuartal pertama tahun 2015, kata Intan, Delica juga menembus angka penjualan 9,5 persen atau sekitar 170 unit.
Intan menjelaskan pihak KTB akan terus membuat program untuk mendekatkan Delica dengan keluarga Indoensia karena berdasarkan hasil survei terhadap 200 orang, 50 persen pembeli Delica berasal dari keluarga yang sudah mapan.
Intan yakin Delica akan diterima masyarakat Indonesia karena menggabungkan konsep MPV dengan SUV (Sport Utility Vehicle).
"Utamanya adalah kendaran MPV, sementara SUV-nya adalah bonus bagi para pecinta atau pemilik Delica," kata Intan.
Konsep Sport Utility MPV itu membuat Delica diunggulkan sebagai MPV yang tidak hanya nyaman mengaspal di perkotaan tetapi dapat diandalkan di jalan-jalan bergelombang karena memiliki "ground clearance" yang tertinggi diatara kendaraan lain di kelasnya.
Langganan:
Komentar (Atom)

